Banyak yang mempertanyakan absensi saya dari dunia penge-blog-an. Meskipun saya tergolong penulis freelance (bahasa kerennya penulis serabutan) – nulis demi menghidupi kaum papa dengan menyediakan tawa, aspirasi saya dalam menulis kisah hidup, cukup bisa dibandingkan dengan aspirasi manufacturer tahu meneruskan penghidupannya. Dari menggiling kedelai, mengaduk cairan putih kental2 itu, mendinginkannya, sampai mengolahnya jadi beberapa bentuk untuk didistribusikan kepada masyarakat seperti: tofu di supermarket, kembang tahu di perumahan, sampai tahu gejrot di kolong jembatan tomang. Analogi ini menunjukkan bahwa penulis masih eksis dalam dunia tulis menulis. tentu, karena penulis tidak ingin guru SD penulis menangis tersedu-sedu seolah perjuangan beliau selama bertahun2 mendidik penulis menggoreskan pensil membentuk huruf I-B-U menjadi sia-sia.
Sebenarnya ini adalah post terkait pada suatu kejadian di bulan agustus, di mana ada seorang oknum yang hendak berulangtahun pada saat itu. si oknum ini kita sebut saja Apong. mengapa? karena apong mudah disebut dan tidak menimbulkan asosiasi terhadap pihak manapun, tidak seperti nama mulyadi yang memiliki asosiasi terhadap sejenis serangga menjijikkan bagi kaum hawa.
Apong ini orangnya sangat amit-amit rendah hati karena meskipun sejak jauh2 hari, kami, yang beranggotakan saya, manusia boxer, dan oknum mrt (baca post jumat kliwon untuk lebih jelasnya) telah menawarkan untuk memberinya kado ulang tahun, dia menolak. dia cuma minta dibelikan satu set makan siang mewah di sebuah restoran terkemuka bilangan Raffles City. kontan saja, kami yang memuja harga murah menolaknya. meskipun dilanda kekecewaan yang mendalam, ditandai dengan madesunya tampang apong, dia tetap berusaha menunjukkan ikhtiar ceria.
Didasari keinginan luhur untuk membahagiakan sesama, terutama sesama yang dilindungi negara karena hampir punah (baca: JSL), saya mengirmkan email masal kepada beberapa pihak peduli satwa langka lainnya.
Saudara2 yang terkasih,
Menurut almanak dan kalender zaman purba, teman kita yg bernama Apong akan berulang tahun pada tanggal 31 aug ini, bertepatan dengan ultah seorang yg lain juga. Sehubungan dengan itu, dengan ini saya hendak mengetuk pintu hati saudara2 sekalian untuk turut bersama memikirkan dan memberikan sesuatu sebagai hadiah ulang tahun kepada teman kita ini. Apakah anda sekalian berminat? Dan apakah anda sekalian mengetahui orang mana lagi yg sekiranya berminat untuk turut berkontribusi dalam acara ini? Mohon kabarnya segera ya, sehingga kita bisa memikirkan dan memberikan sesuatu untuknya.
Alternatif lain, kita bisa melakukan sesuatu di acara “Gebuk Anak Segar” aka Freshmen Bash. Acara ini diadakan pada tanggal 30 Aug, jika kita masi bisa mempertahankan kesehatan mental sampai lewat jam 12, teman kita si tiko ini akan memasuki usia 19 sebagai pria jantan. Halah. Apaan sih.
So how? Ada ide? So far sih idenya memberikan polo shirt ato kemeja buat teman kita ini. Pertimbangan kasi polo adalah bajunya dia kurang variatif, sedangkan kemeja bisa guna buat FT. apa kalian ga kasian liat di lusuh gitu buat FT? although we cant help it, huhuhu…
Tolong kabari saya secepatnya ya. Karena wktuny udh tinggal dikit
Nah, sejumlah orang2 yang mereply mengindikasikan saran untuk memberi satwa ini pakaian baru didasari oleh alasan:
- Semua makhluk hidup butuh pakaian
- Apong adalah makhluk hidup
- Apong butuh pakaian
Maka dari itu, serombongan kaum pecinta lingkungan yg terdiri dari saya, manusia boxer, oknum MRT, dan busa (bubbles, she names herself), melangkahkan kaki menuju prapatan Bugis, bahasa gaulnya Bugis Junction, untuk mencari pembalut kulit yg cocok kira2 untuk satwa ini.
Setelah melalui eksplorasi komprehensif ke toko toko seperti Giordano, Samuel Kevin, dan Bossini, kami mulai desperate karena tidak menemukan satu helai baju pun yg kira2 bisa dia kenakan. tentu saja, baju seperti apapun tidak akan pas bila dikenakan seekor anoa atau kukang seperi apong. tapi, didorong rasa setia kawan setinggi tiang bendera, kami terus mencari.
sempat terlintas di pikiran kami untuk membelikan pakaian dalam (baca: kancut) untuk apong setelah melihat2 dept. store di bugis. tapi fakta berupa tiga dari kami adalah pria yang menganggap memilih kancut adalah tabu dan haram mencegah kami untuk membelinya. ditambah lagi kenyataan bahwa apong mungkin kurang bisa mengapresiasikan pemberian itu nantinya sebab dia tidak melihat kancut itu setiap hari, bahkan bila ia bercermin di depan wastafel setiap hari. kecuali kancut itu dia kenakan di leher seperti layaknya serbet bayi.
Anyway, setelah berunding, berargumen, bahkan berkeringat, kami semua memutuskan untuk break dari memilih kado apong dan makan dulu di sebuah warung mie ber-AC dekat sana. pada saat itu, penulis memiliki kompleksitas berupa tendensi untuk menghindari minyak dalam bentuk apapun. sebagai konsekuensinya, saya sempat mendapatkan kesulitan untuk mengomunikasikan keengganan saya pada seorang waitress dari daratan cina untuk tidak memasukkan minyak babi dalam santapan saya itu. untungnya, sebagai saudara yg terikat kontrak dalam kelas hukum bisnis, oknum mrt berbaik hati menawarkan diri menjadi penerjemah dan mengklarifikasi permintaan saya tersebut. Akan tetapi, yang namanya waiter tentu saja memiliki keterbatasan dalam mengingat jenis mie dalam mangkok. terutama bila mangkok tersebut berisi mie yang sama, hanya tanpa minyak. terjadilah kericuhan, saling menuduh satu dan yang lain dalam satu meja itu, siapakah yg mengambil mie tanpa minyak saya? hampir saja terjadi pembunuhan dengan mencolokkan sumpit ke hidung sesama bila sang koki tidak datang dan memberitahu bahwa mie di depan muka saya adalah mie tanpa minyak.
Setelah makan dan kenyang, kami meneruskan tapa. tapa di bugis junction memberi pencerahan berupa instruksi untuk membeli baju dari vendor baju bernama Bossini. sebuah polo shirt atraktif berwarna bendera belanda: biru, putih, oranye. suatu fakta menarik sehubungan dengan belanda: apong mengaku perna minum susu wanita belanda rasa pisang. berdasarkan unsur familiaritas tersebut, kami memutuskan untuk membelinya.
keesokan harinya atau entah kapan, pokoknya besok2nya, saya mengundang manusia boxer ke hostel untuk mendesain acara ulang tahun apong. mulai dari mendesain cara membuat dia hepi, mendesain packaging kado, sampai mendesain kata2 mutiara sebagai petuah untuk apong. mempertimbangkan karakteristik apong sebagai pria muda dinamis yang ramah lingkungan dan cinta uang, kami memutuskan untuk mendesain kado sebagai berikut:
Bungkus koran menunjukkan ‘eco-friendliness’ kami sebagai warga dunia.
Wrapping yang rapi menunjukkan perhatian kami terhadap satwa ini.
Tulisan yang ada dimaksudkan sebagai wujud simpati terhadap kondisi mengenaskan yang menimpa Apong (fakta sebagai JSL).
Lambang negara menunjukkan cinta kami terhadap tanah air.
Semua itu mendasari kami untuk membungkus kado sedemikian adanya. untuk gambaran belakang:
Betapa baiknya kami selaku pihak penyelenggara yang telah menyediakan pilihan garansi!
Tidak lupa akan eksistensi kue, Roti Bicara menjadi pilihan yang jitu dalam penyediaan roti Just In Time.
Ucapan terima kasih spesial kepada nona dunia abu-abu yang telah membantu memotret kue ini.
Setelah kami menyiapkan kado, manusia boxer dan saya menyiapkan acara pemberian kado di sekolah dengan prosedur yang matang, yang akan dilanjutkan pada post berikutnya.



